.jamkalenderkompiajaib {border: 0px; padding: 5px; background: none;} .jamkalenderkompiajaib a {background:none;} img.float-right {margin: 5px 0px 0 10px;} img.float-left {margin: 5px 10px 0 0px;} <!--Can't find substitution for tag [blog.pagetitle]-->

Kamis, 06 September 2012

SUMBA TIMUR - HAHARU - PRAIBAKUL


                                                                Writed By : Jekson Hamba Pulu
I.    MENGGALI SEJARAH 
A.    Sejarah Lahirnya Sumba

Konon nenek moyang orang Sumba dikisahkan berasal dari Paraing Wunga (Tanjung Sasar). Dimana dikisahkan perjalanan nenek moyang orang Sumba berawal dari Mekah (Timur Tengah) melewati Malaka (Malaisya), Bangka, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores (Ende-Manggarai) kemudian dalam pelayaran terdampar di Tanjung Sasar (Hahar). Yang istilahnya masih dipertahankan sampai sekarang oleh orang Haharu Asli: “Makah-Tabakul, Malaka-Tana Bara, Ende-Ambarai”,yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Mekah yang membesarkan kita, Malaisya Tanah Putih, Ende-Manggarai.  Dari ungkapan diatas dapat di artikan bahwa perjalanan nenek moyang orang Sumba (Lii Marapu) berawal dari Mekah/ Timur Tengah (mungkin berawal dari runtuhnya Menara Babel*) kemudian berlayar menggunakan rakit bambu dalam bentuk armada besar, melewati India, kemudian ke Selat Malaka (singga ke Malaisya), singga ke Ende-Manggarai dan sampai ke Tanjung Sasar.

 Pendaratan oleh suku yang ada sekarang ini yaitu golongan aliran Marapu (Lii Marapu). Dalam pendaratan, diatur strategi pengepungan Tana Humba sebagai berikut: 
  • Kelompok I mendarat di Haharu Malai Kataka Lindi Watu, terdiri dari 2 rombongan.    
  • Ø  Rombongan I terdiri dari 8 buah rakit raksasa, 8 x 4 suku/kabihu = 32 kabihu/suku/marga dibawah pimpinan:
    1.      Umbu Walu Mandoku
    2.      Umbu Walu Mandanga
    3.      Umbu Walu Haharu I Njata (suku/kabihu Kanatangu)
    4.      Umbu Walu Njongu I Kuhi I Watu
    5.      Umbu Karakapu I Kababa (suku/kabihu Kanatangu)
    6.      Umbu Ondangu Ratu Djawa
    7.      Umbu Karanja Rowa Ratu (suku/kabihu Karunggu Watu) dan
    8.      Umbu Hili Baba Hili Ndahi (suku/kabihu Ana Maeri). 
    Ø  Rombongan II terdiri dari tujuh buah rakit raksasa. 7 x 4 suku/kabihu = 28 suku/kabihu besar (karonggu), dibawah pimpinan:
    1.      Umbu Anda Mangu Langu
    2.      Umbu Meta Mangu Ndolungu didampingi oleh Mahumbu Mambua
    3.      Umbu Rere Ana Lodu,
    4.      Rambu Reri Ana Wulangu,
    5.      Umbu Nyamba Hawungu Ratu Nggai,
    6.      Umbu Pongo Kawa Nggodu Laki
    7.      Umbu Tla Nla.
                Suku yang pegang Dewa Kilat (Marapu kaballa) ialah Umbu Pambalu Robu Ndilu  Lauku Boku Ma Wamaru. Ungkapan perjalanan Pihu Ndhi Lauru, Awang Walu Ndhi, artinya mereka berasal dari 7 lapis laut (bawah) 8 lapis awan. Ini pengertian primitif, yang dimaksud ialah tiap pulau yang mereka lalui dianggap satu lapis langit yaitu daratan Malaka, Bangka, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba (8 lapis). Sedangkan 7 lapis laut (pihu ndhi lauru) ialah Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Banyuwangi, Selat Bali, Selat Alas, dan Selat Sumba.
     
    Untuk Sumba Timur, Tana Walu Ndawa Awangu Walu Ndni (8 daratan dan delapan selat) yaitu Mlaka, Sunda, Banyuwangi, Bali, Alas, Sape, Lambata, dan Sumba.
    ·         Kelompok II mendarat La Panda Wai La Mananga Bokulu.
    Ø  Terdiri dari 12 buah rakit (12 x 4 kabihu = 48 kabihu/suku/marga) di bawah pimpinan:
    1.      Umbu Meha Nguru Meha Taku,
    2.      Umbu Wulangu Tarandima Pati Hanggu,
    3.      Tara Nggaha Mbapa Tungga Pira Maliti.
    ·         Kelompok III mendarat di Wula Waijilu Hongga Hilimata (muara sungai Wula)
    Ø  Terdiri dari 3 buah rakit raksasa (3 x 4 kabihu/suku) di bawah pimpinan:
    1.      Umbu Huki Dewa (julukan jabatannya Jangga Ndewa Talu Ura (.....selaku Kepala Staf Angkatan Perang Menteri Pertahanan) didampingi oleh Hakelu Kahewa Mbolu Pati Randa Bara Kadu (kabihu/suku Kaliti),
    2.      Umbu Ma Humbali Ma Hambalu (kabihu/suku Nipa) dan
    3.      Umbu Debu Rara Ratu Umba (kabihu/suku Ana Umb).

    ·         Kelompok IV mendarat di Mbjiku Padua Kambata Kundurawa
    Ø  Terdiri dari enam rakit (6 x 4 kabihu/suku = 24 kabihu/suku) di bawah pimpinan:
    1.      Umbu Nggodu Nggaura Ndeta Laki didampingi oleh Umbu Leli Ngadu Tidahu Kondaru
    2.      Ma Kombu Ma Lapu (kabihu/suku Kombu).
                Julukan dari Pantai Selatan karena banyak agas adalah Tidahu Tawui Karambua Pawutu. Julukan untuk seluruh Lewa Tidahu: i Leli i Ngadu i Tidahu i Kuandaru. Karena Umbu Huki Dewa selaku Menteri Pertahanan melakukan pemeriksaan dan mengatur penyerangan terhadap suku-suku yang sudah berada lebih dahulu. Secara serentak dalam peperangan/pertempuran dilakukan pembunuhan massal terhadap suku/kabihu, bila perlu seluruh isi paraingu. Segala harta kekayaan berupa barang antik (piring porselen warna putih biru buatan Tiongkok masa Dinasti Han), barang dari tembaga, guci buatan purbakala dikuburkan bersama-sama. Dalam keyakinan aliran kepercayaan Marapu, haram untuk mengambil atau memiliki harta jarahan dalam perang terbuka, barangsiapa yang melanggarnya akan mati atau turunan dan paraingunya akan musnah (natumbunya kanduru kandangu). Karena itu terdapat pekuburan kuno berisi guci, piring porselen antik (kawinga ndai) dan logam lainnya di seluruh wilayah Sumba pada umumnya dan Sumba Timur khususnya.
                Jumlah kelompok terakhir yang mendiami Tana Humba hingga saat ini adalah 9 jabatan Aliran Kepercayaan  (9 x 4 buah rakit = 36 buah rakit) ditumpang oleh 9 x 4 suku/kabihu = 144 suku/kabihu. Dalam sejarah perkembangan kabihu/suku, ada yang musnah dan ada yang bertambah karena dalam satu suku orang bersaudara membentuk suku baru tersendiri akibat pertentangan gagasan. Menurut penelitian sejak tahun 1949 sampai 1980, di Sumba Timur terdapat sekitar 200 kabihu/suku dan nama Marapu sekitar 150 Marapu karena ada kabihu/suku yang pecah dari suku asalnya tetapi nama leluhurnya tetap diakui dalam suku yang dibentuk baru.
                Setelah Sumba Timur dan Sumba Barat dikuasai oleh suku-suku yang baru datang maka pimpinan tertinggi rombongan dari 36 buah rakit masing-masing 36 x 4 (144) suku/kabihu (angka Marapu: 1 + 4 + 4 = 9 jabatan, 1 jabatan Ratu/Imam dan 8 jabatan jasmani atau Maramba Tau Mawalu. yaitu delapan sifat luhur seorang pimpinan atau sultan dalam memimpin negara/bangsa; dikutip dari Kertagama) merencanakan suatu Musyawarah Besar Hukum Adat oleh seluruh suku (144 suku) dalam enam tahap.
    A.    Tau paita dan asal nama Sumba
    Menurut prasejarah, pulau Sumba juga telah didatangi dan dihuni oleh beberapa golongan sebagai berikut:
    ·         Golongan I: Tau Paita (penduduk Melayu Purba). Ungkapan Tau Paita (Tau: orang, Paita: pahit; kata Paita berasal dari Majapahit) Golongan ini badannya tinggi , berambut keriting, dan sadis.
    ·         Golongan II, badan besar, tegak berjalan, berbulu, rambut keriting. Sedangkan wanitanya besar dan susunya panjang, disebut juga golongan manusia Molmungga (dialek Haharu). Minimongga berarti orang hutan raksasa (bahasa Latin).
    ·         Golongan III, berbadan besar dan berbulu baik pria maupun wanita, berjalan bungkuk dengan kedua tangan dan kaki merangkak (pangga bei), julukannya: Miau Rumba (kucing hutan raksasa).
    Terungkap dalam bahasa Sumba klasik tentang Tau Paita (Melayu Purba) tiap kepulauan Indonesia. Golongan Tau Paita pada tiap-tiap pulau dengan namanya sbb:
    1. Tau paita di Pulau Andalas dipimpin oleh Kapu Ndala atau suku Humbas-Mandailing
    2. Tau paita di Pulau Jawa dipimpin oleh Umbu Jawa Meha atau suku Jawa
    3. Tau paita di Pulau Bali dipimpin oleh Umbu Mbali atau suku Bali
    4. Tau paita di Pulau Lombok dipimpin oleh Umbu Ruhuku atau suku Sasak
    5. Tau paita di Pulau Bima dipimpin oleh Umbu Ndima atau suku Bima
    6. Tau paita di Pulau Sulawesi dipimpin oleh Umbu Makaha atau ru suku Makassar
    7. Tau paita di Pulau Flores dipimpin oleh Umbu Kawau atau suku Kawau
    8. Tau paita di Pulau Ternate dipimpin oleh Umbu Taranati atau suku Ternate
    9. Tau paita di Pulau Ambon dipimpin oleh Umbu Am-Bo-niti atau suku Ambon
    10. Tau paita di Pulau Irian dipimpin oleh Umbu Panggora atau suku Panggora
    11. Tau paita di Pulau Timor dipimpin oleh Umbu Nggodu Timiru atau suku Timor
    12. Tau paita di Pulau Rote dipimpin oleh Umbu Roti atau suku Rote
    13. Tau paita di Pulau Hawu dipimpin oleh Umbu Hawu Meha atau suku Hawu
    14. Tau paita di Pulau Sumba dipimpin oleh Umbu Humba Meha atau suku Sumba
                Awalnya pulau sumba belum memiliki nama. Umbu Humba Meha merupakan leluhur orang sumba yang berjaya dan memiliki kekuatan yang maha dasyat (Ma Mbiha) sehingga dapat meguasai pulau sumba tetapi bukan merupakan manusia pertama di pulau Sumba. Untuk mengenang beliau sehingga pulau tempat ia berada dan berkuasa di sebut Tana Humba.
    Umbu Humba Meha masih memiliki hubungan dara dengan Umbu Hawu Meha yang berada di Sabu (Suku Hawu). Itulah sebabnya perasaan persaudaraan antara kabihu Humba dengan kabihu Hawu erat sekali. Mereka sudah cerdas dalam bertani, peralatannya sangat sederhana yaitu kapak batu tak bertangkai (kataka ndaningu bubungu), tajak dari tulang rebis binatang berkaki empat (pariku rii karaha banda), pisau dari belahan bambu (kahidi kawita au), dan betel batu hitam (watu tundungu) untuk membelah kayu besar, memecahkan batu.

    B.     Matawai mahu Pada Njara Hamu
    Ungkapan ini nama julukan sebuah taman (Paraing Hawala) di mana manusia pertama (Kawunga Dadu Tau) yaitu Umbu Ndelu Pa-unggulu dan Rambu Kahi Pa-karahangu. Julukan keindahan taman ini: Loku Leu Langga Tana Oi ha, yang artinya suatu taman dengan kelimpahan untuk kebutuhan manusia. Di tengah taman (Loku Leu Langga) mengalir 4 batang mata air (2 batang airnya berwarna keemasan (Amahu Rara) dan dua batang airnya bening (perak) (Amahu Bara) dan Tambura Bara, disimpulkan dengan julukan: Matawai Amahu. Sedangkan julukan: Tana Oi ha, taman yang ditumbuhi bermacam pohon buah-buahan dan rerumputan untuk kebutuhan manusia atau hewan (Njara Hamu).
    Yang paling mendalam arti ungkapan: Matawai Amahu Pada Njara Hamu adalah dalam suatu kehidupan sejahtera, adil, makmur baik manusia maupun kejadian lainnya (Lori Hanggale Hawola Tera la katiku natoma la kamiti Reggu Pa-boru nda natoma la karoka) cukup sandang, pangan dan papan. Dalam ungkapan Njara Hamu menurut tradisi bahwa dalam pemberian nama-nama hewan, burung, atau serangga, maka yang pertama muncul di hadapan Umbu Ndelu Paunggulu adalah Kuda (Njara) dan yang kedua adalah Anjing (Ahu Miti Lama).
    Untuk mengenang atau memperingati taman ini (Loku Leu Langga Tana Oi ha) dalam musyawarah adat I di Haharu Malai (Tanjung Sasar) didirikan Katoda Pahomba Tana suatu onggokan mesbah dengan julukan: Matawai Amahu Pada Njara Hamu, suatu ikrar/tekad untuk membangun Sumba (Tana Humba) untuk mencapai suatu masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dan damai, berjiwa gotong royong, keadilan sosial yang merata (ungkapan: Duanya Na Iuhi Mihi Mbaru Duanya Na Wai Wolu Langga, Tidak ada jurang yang menyolok antara kaya dan miskin). 
     
    II. GAMBARAN UMUM   
    A.    Sumba Timur
     
    Sumba Timur merupakan sebuah kabupaten dalam NKRI yang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan luas wilayah Sumba Timur melcapai 7000,5 Km2. Sumba Timur dibagi lagi dalam kecamatan dan kelurahan. Sumba Timur terdiri dari 22 kecamatan, yang meliputi: Lewa, Ngahu Ori Angu, Lewa Tidahu, Katala Hamu Lingu, Tabundung, Pinupahar,Paberiwai, Karera, Matawai Lapau, Kahaungu Eti, Mahu Ngadu Ngala, Pahunga Lodu, Wula Waijelu, Rindi, Umalulu, Pandawai, Kambata Ma Pambuhangu, Kota Waingapu, Kambera, Haharu, dan Kanatang.

    A.    Kecamatan Haharu
    Kecamatan Haharu terletak di pulau Sumba tepatnya di sebelah utara Kabupaten Sumba Timur dengan ibu kota kecamatan di desa Rambangaru. Umumnya disepanjang utara berbukit dan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun. Dimana musim hujan relative lebih rendah dibandingkan musim kemarau. Pembagian Wilayah adminitatif Kecamatan Haharu adalah sebagai berikut:
    1.      Luas wilayah
    Luas wilayah Kecamatan Haharu: 601,5 Km2.
    2.      Batas wilayah
    Batas-batas wlayah di Kecamatan Haharu Menurut PP No. 40 Tahun 1992, Kecamatan Haharu berbatasan dengan:
    ·         Sebelah Utara berbatasan dengan    : Selat Sumba
    ·         Sebelah Selatan berbatasan dengan : Kecamatan Lewa & Kecamatan GOA
    ·         Sebelah Timur berbatasan dengan   : Kecamatan Kanatang
    ·         Sebelah Barat berbatasan dengan : Kecamatan Lewa & Kabupaten Sumba Tengah
    3.      Jumlah Desa, Dusun, RT/RW dan Rumah Tangga
    Kecamatan Haharu terdiri 7 Desa, 15 Dusun, 30 RW, 75 RT dan 1.401 Rumah Tangga denagn kepadatan penduduk 9 orang/ Km2. 7 Desa yang menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Haharu meliputi: Desa Rambangaru, Desa Praibakul, Desa Mbatapuhu, Desa Kadahang, Desa Wunga, Desa Napu, dan Desa Kalamba.
    4.      Jumlah penduduk
    Jumlah penduduk Kecamatan Haharu mencapai 5.667 Jiwa.
    5.      Data administratif
    Tabel 1. Data administratif Kecamatan Haharu Tahun 2009
    No.
    Nama Desa
    Ibu Kota
    Luas
    Wilayah
    Penduduk
    Sekolah
    Jumlah
    L
    P
    SD
    SMP
    1
    Rambangaru
    Rambangaru
    61,4 Km2
    1525 org
    769
    756
    1
    1
    2
    Praibakul
    Praibakul
    105 Km2
    762 org
    398
    364
    1
    -
    3
    Mbatapuhu
    Wui
    212,4Km2
    938 org
    480
    458
    1
    -
    4
    Kadahang
    Kadahang
    23,5Km2
    711 org
    366
    345
    1
    -
    5
    Wunga
    Umapauhi
    22,4 Km2
    652 org
    420
    388
    1
    -
    6
    Napu
    Napu
    142,6Km2
    808 org
    339
    313
    2
    1
    7
    Kalamba
    Kalamba
    34,2 Km2
    271 org
    135
    136
    1
    -
    Sumber: BPS Sumba Timur 2009

    Tabel 2. Data Panduduk menurut Agama dan Aliran di Kecamatan Haharu Tahun 2009
    No.
    Nama Desa
    Protestan
    Katolik
    Islam
    Budah
    Hindu
    Marapu
    1
    Rambangaru
    620
    160
    42
    -
    -
    703
    2
    Praibakul
    382
    14
    3
    -
    -
    363
    3
    Mbatapuhu
    769
    -
    -
    -
    -
    169
    4
    Kadahang
    485
    8
    12
    -
    -
    147
    5
    Wunga
    125
    50
    -
    -
    -
    536
    6
    Napu
    435
    62
    -
    -
    -
    311
    7
    Kalamba
    120
    -
    -
    -
    -
    15
    Sumber: Kantor kecamatan Haharu 

    Tabel 3. Objek Wisata di Kecamatan Haharu Tahun 2009
    No.
    Objek Wisata
    Jenis Wisata
    Lokasi
    1
    Kampung Wunga
    Seni Budaya
    Wunga
    2
    Patamawai
    Gua Alam
    Mbata Puhu
    3
    Kampung Napu
    Seni Budaya
    Napu
    4
    Wai Mulung
    Alam
    Kadahang

    C.    Desa Praibakul
    1.  Sejarah singkat
    Praibakul berasal bahasa Kapunduk, yaitu gabungan dari 2 kata:  Paraing yang berarti Kerajaan  dan Bakul yang berarti Besar. Sehingga Praibakul dapat diartikan sebagai suatu kerajaan besar dengan Istana yang megah. Pada mulanya praibakul menganut sistem kerajaan (Pareng) dengan pucuk pimpinan dari seorang raja (Maramba). Kepemimpinan seorang raja diwariskan turun temurun kepada keturunan raja (Ana Maramba).
    Raja-raja yang pernah berkuasa di Praibakul Tiadk boleh disebutkan namanya (Maramba Mbiha). Karna menurut cerita jika ada yang bias mengetahui nama dari seorang raja yang menjabat pada waktu itu maka batu Kubur raksasa sekalipun bias kita tarik hanya dengan tali kulit pohon pisang. Jika di beritahukan namanya oleh orang yang lebih tua hanya diberikan panggilang berdasarkan nama hambanya (Ngara Hunga Na). Nama raja-raja praibakul yang diketahui diantaranya:
    Umbu nai Taku (nama aslinya tidak boleh disebutkan*). Sedangkan bapak dan nenek dari Umbu nai Taku belum diketahui. Umbu nai Taku memiliki 2 anak laki-laki, yaitu Umbu Jangga Tera dan Tamu Umbu Kadambu Nggeding. Kemudian Tamu Umbu Kadambu Nggeding memiliki seorang anak: Umbu Kudu Praibakul dan Umbu Kudu Praibakul memiliki 2 orang anak, yaitu Umbu jevon dan Umbu Bintang. Belum berkeluarga saat ini.
    Kerajaan-kerajaan mula-mula sebelum lahirnya Kapunduk Praibakul dan Kapunduk Raambangaru meliputi: Langarut/ la tumbuk (tempat meninggalnya 2 orang anak raja/ ana maramba), kemudian pindah ke Prai Majangga, kemudian Prai Malinjak, ke praikaroku dan sekarang di Kapunduk Rambangaru. Semboyan yang biasa digunakan orang Kapunduk:
    ü  “Kapunduk Majangga mehang Hanggul” (Semua adalah Kepunyaan atau milik dariKapunduk Prai Majangga )
    ü  “Kapunduk Hapit Lawang Harata” (Kapunduk dengan jumlah yang sangat sedikit  Bisa melawan Ribuan Musuh Perang)
    Perang suku yang pernah terjadi dan menjadi suatu cerita kemasyuran dan kekuasaan Kapunduk adalah ketika seorang gembala kerbau (ma pawing karambo) melawan ribuan orang musuh dari Kerajaan Soru. Kisahnya berawal ketika seorang perampok ulung dari Kerajaan Soru, Kalola Banju Mara yang terkenal dengan kehebatan dan kekebalan (ning paboru na) merampok hewan ternak raja kapunduk secara berulang-ulang. Sehingga pada suatu waktu diketahui oleh seorang kabihu Ana Macua (kabihu maramba) yang bernama Tak Njuru Mai yang juga terkenal dengan kehebatan dan kekebalannya. Akhirnya dengan menggendarai seekor kuda yang di beri nama “Pahihung Matok”. Tak Njuru Mai Memburu (namat) Kalola Banju Mara. Kemudian mereka bertemu di Kampung Talicu di Prailangina dan berkelahi adu kekuatan serta kekebalan. Akhirnya dimenangkan oleh Tak Njuru Mai dan memenggal kepala perampok itu dan di bawa ke kapunduk Rambangaru. Hingga saat ini kepalanya masih di simpan di Uma Andung rumah tempat merencanakan strategi untuk berperang/ menyerang mesu (pabera).
    Mendengar kematian orang kepercayaannya mati terbunuh, raja Soru (Horu) tidak tinggal diam. Dengan mengerahkan ribuar pasukannya mereka datang mengepung Prai Majangga yang dikelilingi pagar batu (kal mbat) dengan ketinggian sekitar 5 meter dan lebar 2 meter serta memiliki jendela kecil untuk menembaki musuh dengan meriam tumbuk.
    Kedatangan musuh tidak diketaui oleh orang-orang di Prai Majangga. Ada seorang gembala (ma pawang karambo) yang terkenal dengan benyak kutu/ telur kutu (dang til wucu) sedang meminumkan air pada kudanya, tiba-tiba mendengar suara dari pohon besar yang tidak lain adalah penunggu pohon besar (tau tana) yang member tahukan bahwa prai majangga telah dikepung musuh. Dan tau tana itu memberikan kekuatan/ pegangan (paborung) kepada gembala itu. Hanya sendiri ia pergi menghadapi ribuan musuh dari kerajaan Soru. Ketika ia keluar dari pint gerbang, tiba-tiba saja semua pagar batu dan semua kayu cendana (sandlewood) berubah menyerupai manusia (pahada taung) dan menyerang pasukan dari Soru. Karena ketakutan mereka lari terbirit-birit bahkan saling membunuh. Akhirnya pada saat itu juga ribuan orang pasukan dari Kerajaan Soru semuanya tewas di tempat. Sehingga sampai saat ini tempat tewasnya pasukan-pasukan tersebut di beri nama Ratu Pawela karena pasukan-pasukan itu mati berkalang tanah (mat pawelah) di tempat itu.
    1)      Sop Raja
                            I.     Umbu Jangga Tera
                         II.     Tamu Umbu Kadambu Nggeding
    2)      Kepala Kampung
                             I.   Umbu Karanja Mara
                          II.   Pombu Praibakul
                       III.   Hota Tata
                       IV.   Pombu Mau Andung
                          V.   Kabukut Ngunju Wulang
                       VI.   Meta Tara Jawa (1942)
    3)      Kepala desa Praibakul
                        I.            Umbu Nai Pombu
    Ø  Juru Tulis: Taku Lendi Maramba
                     II.            Taku Lendi Maramba (Pejabat Wilayah) – ditunjuk langsung oleh Camat Achmat idris, karna kades I ada masalah.
    Ø  Sekdes: Yewa Pati Dangu
    Ø  Rukun Keluarga Tamba Hawura: Ngoli Landu kura
    Ø  Rukun Keluarga Bahu Jala: Hapu Hau
                   III.            Umbu Nai Pombu
    Ø  Dusun Watutura: Taku Lendi Maramba
    Ø  Dusun Majangga: Mandiata Pekawoli
                   IV.            Taku Lendi Maramba
    Ø  Sekdes: Yewa Pati Dangu
    Ø  Dusun Watutura: Nday Leti Ata
                     V.            Umbu Nai Pombu (1983) – pensiun
    Ø  Sekdes: Yewa Pati Dangu
                   VI.            Yewa Pati Dangu (   periode)
    Ø  Penitra: P. Mananga Hamu
    Ø  Dusun Watutura: Pombu Landu Maramba
    Ø  Dusun Majangga: Mandiata Peka Woli
                VII.            P. Mananga Hamu
    Ø  Sekdes: Karima Jawa
    Ø  Dusun Watutura: Wuta Langu Njanji
    Ø  Dusun Majangga: Mandiata Peka Woli
              VIII.            P. Mananga Hamu
    Ø  Sekdes: -
    Ø  Dusun Watutura: Wuta Langu Njanji
    Ø  Dusun Majangga: Mandiata Peka Woli
    Ø  RT= 8, RW= 4
    4)      Wunang
    Ø  Wunang I         Mangga Takanjanji
    Ø  Wunang II Luk Tara Nau
    Ø  Wunang III Mbela Hohur.
    2.      Data Administratif desa praibakul
    Desa Praibakul terletak di kecamatan Haharu dengan ibu kota desa di Praibakul. Data spesifik  Desa Praibakul meliputi:
    1.      Luas wilayah
    Luas wilayah Desa Praibakul: 105 Km2
    2.      Batas wilayah
    Batas-batas wlayah di Desa Praibakul berbatasan dengan:
    ·         Sebelah Utara berbatasan dengan    : Desa Rambangaru
    ·         Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Kalamba
    ·         Sebelah Timur berbatasan dengan   : Desa Rambangaru
    ·         Sebelah Barat berbatasan dengan    : Desa Mbatapuhu
    3.      Jumlah penduduk
    Jumlah penduduk Desa Praibakul mencapai 762 Jiwa. Dengan jumlah penduduk Laki-laki 398 orang dan jumlah penduduk Perempuan 364 orang.
    4.      Jumlah Desa, Dusun, RT/RW dan Rumah Tangga
    Desa Praibakul terdiri 2 Dusun, 4 RW, 8 RT dan      Rumah Tangga. 2 dusun yang menjadi bagian dari wilayah Desa Praibakul meliputi: Dusun Majangga dan Dusun Watutura. *

2 komentar:

  1. Maaf dari penyusuna kabihu itu sudah tdk masuk akal..sudah ada kabihu dahulu..kemudian kaum brahmana dtng..kemudian punlang yg dia tinggalkan pada waktu itu adalah budaknya yg mau tggl di pulau sumba..pada waktu itu terjadinya perang.klw tempat tibanya india itu betul...bukan dari runtuhnya menara sehingga pulau sumba ada penghuninya...klw mau tanyah lebih dlm..nenek saya masih hidup skrng uda umur 156 tahun...orng tertua di sumba timur

    BalasHapus
  2. Kenapa orng india menetap.karna di india yerjadi perang di india

    Sya cuma memberitahu 1 kabihu dari 7.yaitu kabihu hau...kenapa orng sabu punya gelar di sumba..slakan anda menjawab....

    BalasHapus