.jamkalenderkompiajaib {border: 0px; padding: 5px; background: none;} .jamkalenderkompiajaib a {background:none;} img.float-right {margin: 5px 0px 0 10px;} img.float-left {margin: 5px 10px 0 0px;}

Sabtu, 28 Januari 2012

“KAJIAN PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN SUMBA TIMUR”



Kabupaten Sumba Timur selain dikenal memiliki potensi pariwisata bahari, terutama untuk kegiatan selancar, juga memiliki potensi pengembangan produksi perikanan baik  penangkapan ikan di laut dan budidaya perikanan. Kajian Wilayah ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai potensi pengembangan produksi perikanan dengan memperhatikan aspek fisik, ekosistem, demografi dan sosial budaya serta sarana dan prasarana produksi perikanan.
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pengembangan produksi perikanan Kabupaten Sumba Timur masih sangat terbuka lebar untuk dikembangkan di masa yang akan datang, terutama dalam mendukung kegiatan otonomi daerah untuk mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pendahuluan
Wilayah pesisir dan lautan Indonesia yang kaya dan beragam sumberdaya alamnya, selain menyediakan berbagai sumberdaya alam, juga memiliki erbagai fungsi antara lain transportasi, pelabuhan, kawasan industri, pariwisata, agribisnis dan agroindustri, serta kawasan permukiman dan tempat pembuangan limbah
Kabupaten Sumba Timur yang merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara timur yang terletak di bagian Selatan dari Negara  kesatuan republik Indonesia. Tepatnya secara astronomis membentang antara 190045’-120052’ Bujur timur (BT) di sebelah Timur dan 09016’- 10020’ lintang selatan (LS). Secara keseluruhan Sumba Timur adalah bagian dari pulau Sumba seluas 7.000,5 km2 atau 700.500 Hektar (luas daratan) termasuk beberapa pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Salura, Pulau Kotak, Pulau Nusa dan Pulau Mangkudu
Kondisi Fisik Daerah Kajian
Kabupaten Sumba Timur secara astronomis membentang antara 190045’- 120052’ Bujur timur (BT) di sebelah Timur dan 09016’- 10020’ lintang selatan (LS). Secara keseluruhan Sumba Timur adalah bagian dari pulau Sumba  seluas 7.000,5 km2 atau 700.500 Hektar (luas daratan) termasuk beberapa pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Salura, Pulau Kotak, Pulau Nusa dan Pulau Mangkudu. Keadaan iklim di kabupaten Sumba Timur mempunyai persamaan dengan kebanyakan Kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang beriklim tropis. Curah hujan berlangsung sungkat dan tidak merata setiap tahunnya.
Kondisi Sosial Ekonomi Daerah Kajian
Demografi
Kabupaten Sumba Timur dengan luas wilayah 7.000,5 km2 yang meliputi Pulau Sumba dan beberapa pulau-pulau kecil yaitu meliputi Pulau Salura, Pulau Kotak, Pulau Nusa dan Pulau Mangkudu, memiliki jumlah penduduk sebesar 202.876 Jiwa dan jumlah keluarga sebanyak 39.854 rumah tangga pada tahun 2003. Dengan demikian kepadatan Kabupaten Sumba Timur adalah 29 jiwa/km2 dan 5,7 KK/km2.
Jenis Pekerjaan
Pada tahun 2002, mata pencaharian penduduk terbesar untuk Rumah Tangga Perikanan adalah sebesar 451 KK ada di Kecamatan Pandawai, urutan kedua dengan jumlah 390 KK ada di Kecamatan Waingapu. Seperti yang tampak pada tabel di bawah ini. jika dibandingkan dengan Jumlah Keluarga secara keseluruhan, persentase terbesar rumah tangga perikanan ada di Kecamatan Pandawai sebesar 21,4%, kemudian Kota Waingapu sebesar 18,5%.

Potensi Perikanan Sumba Timur
a. Perikanan Tangkap
Wilayah Kabupaten Sumba Timur terletak di antara selat Sumba, Laut Salu dan Samudra Hindia memiliki luas laut 2.763,05 Km atau (radius 4 mil). Kaya akan keanekaragaman hayati laut, baik sumber dayaikan pelangis (berbagai jenis tuna, tongkol, cakalang, dll) dan sumberdaya ikan demersal (kerapu, hiu, serta berbagai jenis ikan karang, udang, dll). Penyebaran ikan pelangis dan demersal hampir di seluruh perairan pantai terutama di wilayah pantai utara (Tanjung sasar, Tanjung batu, Modu, Kayuri, Rende, Tapil, Nusa Maukawini, Hanggaroru, Benda, dan kalala) dan pantai selatan (Tarimbang dan Salura).
b. Perikanan Budidaya
Kabupaten Sumba Timur dengan panjang garis pantai 433,6 Km sangat berpotensi untuk pengembangan budidaya laut. Potensi lahan untuk kegiatan budidaya laut secara keseluruhan seluas 1.600 ha dan berdasarkan potensi lahan diperuntukannya bagi pengembangan budidaya rumput laut sekitar 600 ha (37,5 %) dan sekitar 1.000 ha (62,5 %) berpotensi untuk budidaya kerapu, kakap, teripang, mutiara. Demikian juga Kabupaten Sumba Timur memiliki potensi untuk budidaya ikan di  aratan (budidaya kolam, air payau/tambak, dan mina padi). Inventarisasi luas lahan potensial budidaya rumput laut dapat di lihat pada lampiran 2. .Potensi lahan untukpengembangan perikanan darat, sebagai berikut :
• Budidaya air payau sekitar 500 Ha, pemanfaatan lahan hanya 6 Ha
• Mina padi seluas 168 Ha, pemanfaatan lahan hanya 2 Ha
• Kolam sekitar 50 Ha, pemanfaatan lahan hanya 7 Ha.
c. Armada Penangkapan
Armada panangkapan ikan di Kabupaten Sumba Timur masih didominasi oleh armada berupa sampan sebesar 71 % disusul dengan armada perahu motor tempel sebesar 15 % . Jenis dan jumlah armada pada tahun 2002 sekitar 1.276 unit (Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan).
d. Alat Tangkap
Alat penangkapan ikan yang di gunakan di Kabupaten Sumba Timur di  dominasi oleh jaring insang (Gillnet) sebesar 48,97 % disusul alat tangkap pancing sebesar 25.47 % dan alat lainnya sebesar 24,75 %. Jumlah alat tangkap sebesar 10,441 unit (Sumber Dinas Kelautan dan Perikanan),


Kajian wilayah Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu bagian kegiatan dari Pekerjaan Pengembangan Aplikasi Basisdata dan Kajian Wilayah 3 KTI. Dimana setiap wilayah kajian memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda, sehingga arahan pengembangan yang diberikan untuk setiap wilayah berbedabeda pula. Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu Kabupaten di Nusa Tenggara Timur dengan 15 kecamatan yang terletak di wilayah pesisir utara, timur dan selatan Pulau Sumba, dengan ibukota kabupaten di Kota Waingapu. Sumba Timur memiliki potensi pariwisata yang besar, merupakan daerah tujuan wisata selancar di pantai Kalala, Tarimbang, Purukaberta dan Wakiri. Selain dari potensi pariwisata yang sudah cukup dikenal, Kabupaten Sumba Timur memiliki potensi produksi perikanan, dengan lokasinya yang cukup strategis sebelah Utara bersebelahan dengan Selat Sumba dan Laut Sawu, serta di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Sehingga produksi perikanan masih sangat terbuka untuk dikembangkan. Kesimpulan dan saran dari kajian wilayah ini lebih menekankan pada peningkatan produksi perikanan.
Secara keseluruhan hasil kajian wilayah pengembangan produksi perikanan di Kabupaten Sumba Timur dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Dilihat dari analisis ekosistem wilayah pesisir Kabupaten Sumba Timur, seperti yang telah diutarakan pada bab 3 sebelumnya sulitnya mencari lokasi pelabuhan dengan terlihatnya rataan terumbu karang juga tidak begitu lebar, sehingga menandakan bahwa perairan di wilayah ini langsung berhadapan dengan tubir atau perairan laut dalam (drop off). Pada citra terlihat pula bahwa agak sulit untuk mencari lahan untuk memdirikan pelabuhan, karena pada umumnya tidak adanya lokasi yang terlindung seperti teluk, walaupun kondisi perairannya mendukung (kedalamannya cukup dalam dan tidak ada sungai besar yang akan menyebabkan pendangkalan, sehingga harus dikeruk setiap saat, seperti kebanyakkan pelabuhan di Jawa). Pelabuhan jika dibangun mungkin hanya berfungsi sekitar 9 bulan baik di pantai utara maupun di pantai selatan, karena disebabkan pengaruh angin musim, dimana pada musim timur (Juni-Agustus) pantai selatan akan terpukul ombak besar akibat angin kencang, sedangkan pantai utara akan terkena pukulan ombak pada musim barat (Desember-Februari). Perlu diadakan kajian yang lebih detail mengenai perlu tidaknya dibangun pelabuhan pendaratan ikan di Kabupaten Sumba Timur dengan mempertimbangkan produksi perikanan dan aspek fisik dari wilayah seperi iklim, batimetri dan, pola arus, ekosistem dan lainnya.
2.      Sarana dan Prasarana Produksi Perikanan yang ada saat ini masih bersifat tradisional armada penangkapan ikan di Kabupaten Sumba Timur masih di dominasi oleh nelayan tanpa perahu (melakukan penangkapan tanpa armada) kemudian disusul dengan menggunakan armada Jukung/sampan dimana daya jangkaunya di sekitar daerah pantai. Alat penangkapan ikan di Kabupaten Sumba Timur masi di domonasi oleh jaring insang (5.113) unit, kemudian disusul alat tangkap pancing (Tondo,Ulur, Rawai, dll) sebesar 2.659 unit dimana Cathable (kemampuan  tangkap) kedua alat tangkap ini sangat rendah.
3.      Keadaan armada dan alat tangkap yang masih sederhana menyababkan produksi perikanan di Kabupaten Sumba Timur baru mencapai 5.230,1 ton. Keterbatasan sarana dan prasarana produksi perikanan ini membuat belum optimalnya produksi perikanan di Kabupaten Sumba Timur, serta minimnya informasi mengenai potensi perikanan yang berorientasi pasar di perairan Sumba Timur, mengakibatkan ketidaktahuan nelayan dan investor untuk memfokuskan kegiatan produksi perikanan yang memiliki nilai jual yang tinggi.
4.      Fungsi TPI belum di optimalkan karena masih dalam taraf pembenahan/pembangunan untuk kelengkapan baik dari segi perangkat keras (pembangunan cold storage, tempat penimbangan dan pendaratan perahu/kapal ikan) dan perangkat lunaknya (peraturan pelaksanaan kegiatan pelelangan). Diharapkan dalam awal tahun 2003 sudah dapat dioptimalkan.
5.      Masih banyaknya konsesi budidaya rumput laut yang belum di dibudayakan sehingga produksi belum optimal dibandingkan dengan potensi lahan tersedia diakibatkan pemanfaatan lahan yang minim (28 Ha) karena belum semua perusahaan mengoptimalkan lahan untuk kegiatan budidaya. Ketersediaan modal dan pasar dari budidaya rumput laut ini merupakan factor penting dalam pengembangan produksinya. Perlu adanya kajian lebih lanjut.

SARAN
Mengingat adanya beberapa keterbatasan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan   ekerjaan Pengembangan Aplikasi Basisdata dan Kajian Wilayah 3 KTI, kajian wilayah yang dihasilkan dirasa belum optimal. Kendala waktu yang terlalu singkat untuk mengkaji 3 Kabupaten secara sekaligus, menyebabkan informasi dan kajian yang dihasilkan kurang mendalam, sehingga perlu dilakukan kajian l bih lanjut untuk setiap daerah. Terlepas dari keterbatasan yang telah diungkapkan diatas, dari hasil kajian ini dapat di berikan beberapa masukan berupa peningkatan-peningkatan usaha dan kegiatan yang mencakup aspek sumberdaya alam, prasarana dan sarana produksi perikanan, Iptek dan  sumberdaya manusia, seperti dibawah ini :
Ø  Perlu adanya penelitian tentang potensi perairan laut sehingga terinventarisirr  ata/informasi secara baik dan akurat
Ø  Perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana yang dapat menunjang peningkatan pemanfaatan sumber daya ikan
Ø  Perlu adanya bantuan modal kepada petani /nelayan ikan baik dari pihak pemerintah maupun swasta dalam rangka pemanfaatan potensi sumber daya ikan
Ø  Perlu kesiapan pengusaha dalam hal menyediakan sarana, prasarana dan dapat menempatkan tenaga teknis lapangan
Ø  Perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik aparat maupun nelayan ikan melalui pendidikan dan pelatihan. 

Sumber: PUSAT SURVEI SUMBERDAYA ALAM LAUT BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar